3.00
Informasi Kontak
Jalan Pasar Ikan 5 , Kecamatan Penjaringan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14440, Indonesia
Informasi Detail
Tanggal Museum Resmi Dibuka

Museum Bahari adalah museum yang menyimpan koleksi yang berhubungan dengan kebaharian dan kenelayanan bangsa Indonesia dari Sabang hingga Merauke yang berlokasi di seberang Pelabuhan Sunda Kelapa.

Museum Bahari juga menyimpan berbagai macam benda koleksi TNI AL, koleksi kartografi, maket Pulau Onrust, tokoh-tokoh maritim Nusantara, koleksi peralatan milik pelaut di masa lalu, serta cerita rakyat dan syair lagu yang sering dinyanyikan oleh nelayan Indonesia zaman dulu.

Gedung ini awalnya digunakan untuk menyimpan barang dagangan utama VOC di Nusantara, yaitu rempah, kopi, teh, tembaga, timah, dan tekstil. Tahun 1976, bangunan cagar budaya ini dipugar kembali, dan kemudian pada 7 Juli 1977 diresmikan sebagai Museum Bahari.

Museum Bahari dengan ciri bangunan berwarna putih ini memiliki berbagai jenis koleksi benda-benda bersejarah kelautan, mulai dari meriam VOC, replika berbagai perahu nusantara, perahu modern, phinisi, alat navigasi pelayaran, jangkar, teropong, perahu-perahu asli, rempah-rempah, dokumentasi pelayaran, dan lukisan.

Museum Bahari dan diresmikan pada tanggal 7 Juli 1977 oleh Gubernur DKI Jakarta Letjen Marinir Ali Sadikin, bersamaan dengan Menara Syahbandar.

Indonesia secara geografis merupakan sebuah negara kepulauan dengan dua pertiga luas lautan lebih besar dari daratan. Penting bagi kita para penerus bangsa untuk mengetahui sejarah kemaritiman Indonesia. Maka, untuk mengetahuinya kamu bisa datang berkunjung ke Museum Bahari. Di tempat ini kamu dapat melihat kemahsyuran pertahanan maritim Nusantara di masa lalu. Selain itu, sebelum difungsikan sebagai museum, dahulunya tempat ini dijadikan sebagai tempat penyimpanan komoditi utama seperti rempah, kopi, teh, dan lain sebagainya oleh VOC. Museum Bahari memiliki ratusan koleksi, mulai dari yang asli maupun replika. Benda-benda tersebut diklasifikasikan menjadi tujuh kategori yang ditempatkan di ruangan berbeda-beda.

Kelengkapan koleksi kapal menjadi salah satu kelebihan yang paling menonjol. Bahkan, Museum Bahari menjadi satu-satunya museum yang memiliki koleksi perahu dan kapal tradisional dari seluruh wilayah di Indonesia. Kamu bisa melihat beberapa koleksi kapal asli dan replika, mulai dari miniatur kapal layar Batavia abad-16, kapal VOC, kapal Phinisi Nusantara khas rakyat Bugis, kapal kerajaan sriwijaya, hingga kapal majapahit. Tak hanya itu, Museum Bahari juga memiliki koleksi kapal dari berbagai negara, seperti Swedia dan Yunani.

Museum Bahari juga menyimpan berbagai macam benda koleksi TNI AL, koleksi kartografi, maket Pulau Onrust, tokoh-tokoh maritim Nusantara, koleksi peralatan milik pelaut di masa lalu, serta cerita rakyat dan syair lagu yang sering dinyanyikan oleh nelayan Indonesia zaman dulu.
Jika kamu ingin berkunjung ke Museum Bahari, kamu bisa datang ke Jl. Pasar Ikan Nomor 1, Kawasan Sunda Kelapa, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara.

Koleksi-koleksi yang disimpan terdiri atas berbagai jenis perahu tradisional dengan aneka bentuk, gaya dan ragam hias, hingga kapal zaman VOC. Selain itu ada pula berbagai model dan miniatur kapal modern dan perlengkapan penunjang kegiatan pelayaran. Juga peralatan yang digunakan oleh pelaut pada masa lalu seperti alat navigasi, jangkar, teropong, model mercusuar dan meriam.

Museum Bahari juga menampilkan koleksi biota laut, data-data jenis dan sebaran ikan di perairan Indonesia dan aneka perlengkapan serta cerita dan lagu tradisional masyarakat nelayan Nusantara. Museum ini juga menampilkan matra TNI AL, koleksi kartografi, maket Pulau Onrust, tokoh-tokoh maritim Nusantara serta perjalanan kapal KPM Batavia – Amsterdam.
Jika kamu sedang berkunjung ke Kawasan Kota Tua, jangan lewatkan kesempatan untuk mampir ke Museum Bahari. Jaraknya hanya sekitar 1,5 km dari sana.

Museum Bahari Jakarta pada masa Pemerintahan Belanda adalah sebuah Gudang yang difungsikan untuk penyimpanan dan tempat sortir dan mengepak hasil bumi seperti rempah-rempah yang dimana merupakan komoditas utama VOC Belanda yang saat itu sangat laris di pasaran. Bangunan bersejarah ini memiliki dua sisi, yaitu sisi barat dan sisi timur. Pada sisi barat gedung Museum Bahari ini dinamakan dengan Westzijdsche Pakhuizen yang artinya adalah Gudang Barat, bangunan pada Gudang Barat ini dibangun secara bertahap mulai dari tahun 1652 hingga 1771. Untuk Gudang Timur yang terletak pada gedung Museum Bahari sisi timur ini disebut Westzijdse Pakhuizen.

Nah! Gedung Museum Bahari ini bertempat di beberapa bangunan pada Gudang Barat yang terdiri atas empat bangunan dan tiga bangunan diantaranya itulah yang saat ini digunakan sebagai Museum Bahari. Gedung Museum Bahari tersebut dulunya digunakan sebagai penyimpanan barang dagangan utama VOC di Nusantara seperti rempah, kopi, teh, tembaga, tekstil dan juga timah.

Selain bangunan Gudang induk yang tidak jauh dari situ, terdapat pula kantor dagangnya. Bangunan Menara yang berlantai tiga yang kini dikenal dengan nama Menara Syahbandar yang dulunya adalah bangunan bekas Bastion Culemborg yang merupakan kubu pertahanan. Letaknya hanya berjarak 50 meter dari komplek gedung rempah VOC yang kini dikenal sebagai Museum Bahari. Gedung bangunan dari Museum Bahari telah menjadi bukti bisu sejarah kejayaan kota bandar perdagangan rempah Batavia.

Tetapi pada saat masa penjajahan Jepang, gedung Museum Bahari ini difungsikan sebagai tempat penyimpanan barang logistik tentara Jepang. Kemudian, pada pasca Indonesia merdeka, salah satu bangunan yang merupakan Peninggalan Sejarah di Indonesia ini digunakan oleh PLN dan PTT untuk Gudang. Setelah beberapa tahun kemudian, pada tahun 1976, bangunan bersejarah ini dipugar kembali. Ketiga bangunan ini selesai dipugar dalam tahun yang berbeda-beda yakini Gedung A selesai pada tahun 1719, Gedung B pada tahun 1774, sedangkan Gedung C di tahun 1773. Kemudian pada tanggal 7 Juli 1977 adalah peresmian Museum Bahari oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin. Gedung Museum Bahari pun menjadi salah satu bangunan cagar budaya milik Indonesia.

Namun ternyata hal yang tidak terduga pun menjadi sorotan, pada tahun 2018 Museum Bahari dilahap oleh api. Kebakaran yang berlangsung pada pukul 08.55 WIB itu melumatkan barang-barang yang sangat bernilai tinggi akan sejarahnya. Hal ini menjadi salah satu bencana bagi dunia permuseuman Indonesia, dikarenakan nilai budaya, sejarah, dan peradaban yang ada di Museum Bahari tersebut sangat tidak ternilai harganya.

Banyak koleksi yang terbakar dan rusak akibat kebakaran yang terjadi ini. Koleksi-koleksi sumbangan dari empat negara yakni Amerika, Inggris, Australia, dan Belanda yang berada di ruangan  pameran Perang Laut Jawa pun ikut terbakar. Tidak hanya itu, namun koleksi miniatur dan alat-alat navigasi laut bersejarah, seperti miniatur mercusuar, perahu tradisional hingga kepada rambu-rambu laut juga menjadi korban dalam kebakaran yang terjadi di Museum Bahari saat itu.

Bahkan masih ada lagi koleksi-koleksi Museum Bahari yang menjadi korban dalam bencana ini. Tempat penyimpanan koleksi miniatur perahu-perahu dari seluruh Nusantara yang terdapat pada Gedung C terbakar habis. Masih banyak benda-benda bersejarah sekitar 150 koleksi di Museum Bahari yang tidak sempat untuk diselamatkan dari lahapan si jago merah.

Namun tidak lama berlarut dalam kesedihan ini, tak lama dari peristiwa kebakaran Museum Bahari tanggal 16 Januari 2018, mulai dibenahi kembali sehingga pada tanggal 23 Januari 2018 Museum Bahari dibuka kembali untuk umum. Walaupun belum 100 persen pulih, tetapi sudah dianggap lebih kondusif.

Koleksi yang dimiliki oleh Museum Bahari Jakarta ini sebanyak 126 koleksi benda-benda sejarah kelautan. Koleksi yang menjadi ketertarikan atau menjadi koleksi utama dari Museum Bahari ini adalah kapal dan perahu-perahu niaga tradisional. Dipamerkan juga puluhan miniatur yang diantaranya terdapat kurang lebih 19 koleksi perahu asli dan 107 miniatur, foto-foto dan biota laut. Jika ditotalkan jumlah dari koleksi Museum Bahari setelah peristiwa kebakaran 2018 yang terselamatkan sekitar kurang lebih 800 koleksi.

Museum Bahari memiliki koleksi berbagai jenis perahu tradisional dengan aneka bentuk, gaya dan ragam hias, hingga kapal zaman VOC. Kemudian ada juga koleksi peralatan yang digunakan oleh pelaut pada masa lalu seperti alat navigasi, jangkar, teropong, model mercusuar, dan meriam.

Kemudian Museum Bahari juga menampilkan koleksi berbagai biota laut, data-data jenis dan sebaran ikan di perairan Indonesia dan aneka perlengkapan serta cerita dan lagu tradisional masyarakat nelayan Nusantara, matra TNI AL, serta tokoh-tokoh maritim Nusantara serta perjalanan kapal KPM Batavia-Amsterdam.

Berbagai koleksi yang ada di Museum Bahari ini dipamerkan ke dalam sejumlah pembagian ruang, seperti Ruang Masyarakat Nelayan Indonesia, pada ruangan inilah miniatur kapal dan peralatan untuk nelayan dipamerkan; Ruang Teknologi Menangkap Ikan, alat pancing, bubu dan jaring akan disajikan di ruangan ini; Ruang Biota Laut, di dalam ruangan yang satu ini memamerkan aneka jenis ikan, kerang, dugong, dan tumbuhan laut yang beragam; Ruang Navigasi,pada ruangan ini menyajikan teleskop, kompas, dan sejumlah alat bantu navigasi lainnya; dan ada lainnya seperti Ruang Pelayaran Kapal Uap dan Pelabuhan Jakarta.

Layanan Yang Tersedia
Bisa Grup
Area Parkir
Toilet
Jam Operasional
Monday
8:00 am - 5:00 pm
Tuesday
8:00 am - 5:00 pm
Wednesday
8:00 am - 5:00 pm
Thursday
8:00 am - 5:00 pm
Friday
8:00 am - 5:00 pm
Saturday
8:00 am - 5:00 pm
Sunday
8:00 am - 5:00 pm




museum lainnya

Museum Bahari Jakarta
3.01
Jalan Pasar Ikan 5 , Kecamatan Penjaringan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14440, Indonesia
Museum Nasional
5.01
Kecamatan Gambir, Daerah Khusus Ibukota Jakarta , Indonesia
Museum Sejarah Jakarta (Fatahillah)
3.04
Jalan Kali Besar Timur 4 29 , Kecamatan Taman Sari, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11110, Indonesia
Museum Sumpah Pemuda
Jalan Kramat Raya No.106 , Kecamatan Senen, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10420, Indonesia


Kategori lainnya