0.00
Informasi Kontak
Jalan Abdurrahman Hakim 3b , Lembah Segar, Sumatera Barat 27422, Indonesia
Informasi Detail

Info Box terletak di kawasan Tangsi Baru. Bangunan ini oleh Pemda Kota Sawahlunto direkomendasikan sebagai Pusat Informasi sejarah tambang batubara Kota Sawahlunto. Awalnya Info Box adalah sebagai tempat stock field (penumpukan batubara) yang digali dari Lobang Tambang Batubara Mbah Soero. Tahun 1947 pada lokasi ini dibangun Gedung Pertemuan Buruh (GPB). Gedung ini berfungsi sebagai tempat hiburan sekaligus tempat bermain judi bagi para buruh pekerja tambang yang tinggal di sekitar kawasan Tanah Lapang dan Air Dingin, di sinilah para buruh tambang menghamburkan uangnya setelah mereka menerima upah.

Tahun 1965 Gedung Pertemuan Buruh (GPB) berubah nama menjadi Gedung Pertemuan Karyawan (GPK). Pada masa ini gedung dimanfaatkan oleh Anggota Partai Komunis sebagai ruang pertemuan dan setiap minggunya Anggota Partai Komunis mengadakan bazar (pasar murah) dengan tujuan untuk merekrut anggota baru kedalam partai komunis dengan cara bagi siapa yang ikut berbelanja harus membuat tanda tangan yang berarti telah bergabung dalam partai komunis. Tahun 1970-an, gedung ini dialihfungsikan menjadi perumahan karyawan tambang batubara hingga tahun 2004 dan dari tahun 2004 hingga tahun 2007 menjadi hunian masyarakat.

Dengan adanya penelitian dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Batusangkar pada awal 2007 menyatakan bahwa bangunan GPB tidak termasuk dalam kategori Benda Cagar Budaya (BCB) yang dilindungi, maka bertolak dari hal tersebut bangunan akhirnya dirobohkan. Akhir 2007 dengan adanya dana subsidi Pengembangan Kekayaan Budaya Daerah dari Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia maka pada lokasi bangunan GPB dibangunlah gedung baru (Info Box) yang merupakan cikal bakal pendirian Museum Tambang Batubara Kota Sawahlunto.

Lobang Tambang Mbah Soero dulunya dinamakan Lubang Soegar. Lubang ini merupakan lubang pertama di kawasan Soegar yang dibuka oleh Kolonial Belanda pada tahun 1898. Pada lubang ini terdapat kandungan batubara yang paling bagus (kalori 7000) dibandingkan dengan daerah-daerah lain, seperti Sungai Durian, Sigalut, Parambahan, dan Tanah Hitam. Hal ini disebabkan karena kawasan Soegar terletak di lapisan patahan paling bawah dari permukaan Bumi.

Untuk membuka lubang ini Belanda mendatangkan buruh paksa dari berbagai penjara di Nusantara seperti Medan, Jawa, Sulawesi, dan Padang. Mereka dibawa dengan kapal melalui Emma Haven (Pelabuhan Teluk Bayur) dan selanjutnya menggunakan transportasi kereta api dari pelabuhan menuju Sawahlunto.

Sesampainya buruh ini di Sawahlunto, mereka dikirim ke penjara orang rantai yang khusus dibuat oleh Belanda untuk para buruh paksa (orang rantai). Mereka bekerja membuka lobang tambang Soegar dengan kaki yang dirantai, makanan seadanya, dan upah kecil. Namun tenaga mereka dikuras untuk menyelesaikan konstruksi lubang tambang.

Setelah lubang tambang selesai dibuka dengan 2 buah lubang angin (ventilasi udara) maka Belanda mulai melakukan eksploitasi batubara atau ’emas hitam’ yang sangat berkualitas itu. Jumlah produksi batubara yang dihasilkan oleh orang rantai pada tahun 1892 sebanyak 48.000 ton. Kemudian dengan adanya lubang Soegar ini produksi batubara meningkat menjadi 196.207 ton pada tahun 1900. Hal ini membuktikan keberadaan lubang Soegar sangat berpengaruh pada produksi batubara.

Meningkatkanya produksi batubara juga mendatangkan penderitaan bagi buruh paksa. Nasib mereka sangat menyedihkan, rata-rata tiga kali setahun buruh paksa atau orang rantai mendapat hukuman cambuk. Selain perkelahian diantara sesama buruh untuk memperebutkan barang-barang langka seperti rokok dan uang yang menimbulkan tidak sedikit korban jiwa. Kejadian ini dibiarkan oleh mandor tambang dengan syarat jumlah produksi tidak kurang dari 6 ton/shift setiap kelompok.

Pada awal abad ke-20 orang Belanda mendatangkan mandor dari Jawa. Salah satunya Mbah Soerono yang lebih akrab dipanggil Mbah Soero. Mbah Soero diangkat menjadi mandor oleh Kolonial Belanda karena ilmu kebatinan yang dimilikinya. Ia ditugaskan untuk mengawasi penambangan di Lubang Soegar ini. Dalam kesehariannya ia dikenal sangat rajin bekerja, berperilaku baik dan taat beribadah.

Selanjutnya lubang ini ditutup pada tahun 1920-an karena adanya perembesan air dari Batang Lunto dan kadar gas metana yang terus meningkat. Kemudian pada tahun 2007 sesuai dengan Visi dan Misi Kota Sawahlunto sebagai Kota Wisata Tambang yang Berbudaya maka berbagai objek bekas tambang kembali dibenahi, salah satunya Lubang Soegar. Untuk penghargaan kepada mandor Mbah Soerono yang dipanggil sebagai pahlawan pekerja di masa buruh paksa (orang rantai), maka Lubang Soegar ini lebih popular (note: menurut KBBI ‘populer’, tapi juga muncul ‘popularitas’) di tengah masyarakat Sawahlunto dengan sebutan Lobang Tambang Mbah Soero.

Layanan Yang Tersedia
Bisa Grup
Toilet




museum lainnya

Istano Basa Pagaruyung
Jalan Muhammad Yamin , Tanjung Emas, Sumatera Barat 27281, Indonesia
Museum Rumah Adat nan Baanjuang
Jalan Minangkabau 88 , Kecamatan Guguk Panjang, Sumatera Barat 26113, Indonesia
MUSEUM GOEDANG RANSOEM
Jalan M.Yamin 37 , Talawi, Sumatera Barat 27443, Indonesia
Museum Kereta Api Sawah Lunto
Jalan A. Yani 279 , Lembah Segar, Sumatera Barat 27422, Indonesia


Kategori lainnya