Tari putri dalam lingkungan keraton
Srimpi dikenal sebagai salah satu genre tari klasik Jawa dengan pembawaan yang halus dan terukur. Di Yogyakarta, keraton menjelaskan bahwa bentuk Srimpi umumnya dibawakan oleh empat penari. Akan tetapi, repertoar tertentu memiliki variasi jumlah penari atau penataan sehingga informasi detail selalu perlu dihubungkan dengan nama karya.
Gerak yang tampak lembut sebenarnya menuntut penguasaan garis tubuh, ruang, dan hubungan musikal. Penari tidak hanya mengikuti irama, tetapi juga membangun suasana serta cerita melalui komposisi gerak.
Cerita dan gendhing pengiring
Banyak repertoar Srimpi menggunakan nama gendhing pengiring, sedangkan yang lain mengikuti cerita tertentu dari tradisi sastra Jawa. Keraton Yogyakarta memberi contoh karya yang bersumber dari kisah Mahabharata dan Serat Menak.
Iringan sindhenan dan gamelan membantu menyampaikan suasana serta perubahan adegan. Karena itu, satu audio umum tidak memadai untuk mewakili semua Srimpi.
Pewarisan dan perkembangan
Keraton Yogyakarta mencatat perkembangan Srimpi pada sejumlah masa pemerintahan sultan. Pembelajaran tari istana semakin terbuka bagi masyarakat seiring tumbuhnya lembaga pembelajaran di luar keraton pada awal abad ke-20.
Pada masa kini, pergelaran dan dokumentasi dapat menjadi ruang apresiasi. Namun identitas repertoar, koreografer atau pengampu, serta peraturan budaya tetap perlu dicantumkan.

