Jolopong
Rumah tradisional Sunda ini menonjolkan atap memanjang dengan bentuk sederhana. Lantai bangunannya sedikit terangkat dari tanah dan bahan-bahannya berasal dari alam.
Mengenal Jolopong
Jolopong diperkenalkan sebagai salah satu bentuk rumah adat yang populer di Jawa Barat. Bentuk atapnya memanjang dan tampak sederhana dibandingkan beberapa rumah yang memiliki puncak atau lengkungan sangat tinggi. Nama Jolopong berkaitan dengan penampilannya yang lurus atau seolah terkulai.
Bentuk Arsitektur dan Material
Bangunan berupa rumah panggung rendah, dengan ketinggian sekitar 40–60 sentimeter menurut buku. Tangga kecil berada di area teras. Bahan yang disebutkan meliputi kayu, bambu, ijuk, daun kelapa, batu, dan tanah. Bentuk atapnya menyerupai segitiga sama kaki yang memanjang sehingga profilnya mudah dikenali dari arah samping.
Fungsi dan Kehidupan Masyarakat
Jolopong membantu kita memahami bahwa tidak semua rumah panggung dibuat tinggi. Perbedaan ketinggian lantai serta bentuk atap adalah dua hal yang bisa dibandingkan dengan Rumah Panjang Kalimantan Barat atau Rumoh Aceh. Angka tinggi yang disebutkan merupakan informasi dari sumber, bukan ketentuan untuk semua rumah Sunda.
Ayo Amati
Bandingkan tinggi lantai Jolopong dan Rumoh Aceh. Mengapa kedua rumah sama-sama disebut panggung tetapi tampilannya berbeda?
Hunian tradisional
Arsitektur dan Fungsi
Ciri Arsitektur
Atap memanjang dan panggung rendah
Material Bangunan
Kayu, bambu, ijuk, daun kelapa, batu, tanah
Fungsi & Nilai
Hunian tradisional
Galeri Jolopong
Rujukan dan Catatan Editorial
Materi awal diadaptasi menjadi ringkasan edukasi dari buku Rumah Adat Nusantara oleh Intania Poerwaningtias dan Nindya K. Suwarto, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (2017), halaman 27.
Buku menggunakan pembagian administrasi tahun 2017. Satu rumah dalam buku merupakan contoh, bukan perwakilan tunggal seluruh tradisi arsitektur di provinsi tersebut.

